3 Pelajaran dalam Keberanian Para Rasul

oleh David Treybig

https://lifehopeandtruth.com/change/faith/lessons-in-courage/

Ayat-ayat kutipan artikel ini umumnya diambil dari Alkitab versi: Indonesian Modern Bible, tetapi juga dari Indonesian Terjemahan Baru.

Alkitab itu penuh dengan kisah keberanian dan  iman. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari para rasul itu untuk menolong kita bertumbuh dalam keberanian yang kita butuhkan hari ini?

 

 

 

 

 

 

 

Banyak kisah keberanian yang sangat terkenal kita temukan di dalam Alkitab Perjanjian Lama

Yosua mengikuti nasihat Elohim untuk “kuat dan teguh” memimpin bangsa Israel memasuki tanah yang dijanjikan kepada mereka (Yosua 1:6, 7, 9).

Daud, sebagai seorang anak muda, mengalahkan Goliat (1 Samuel 17). Sebagai anak muda, Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolak untuk sujud kepada patung Raja Nebukadnezar (Daniel 3). Dan ketika masih seorang perempuan muda, Ester mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan bangsanya (Ester 4:16).

Ibrani 11 mendokumentasikan banyak kisah-kisah dari orang-orang setia ini.

Kisah orang-orang setia di dalam Perjanjian Lama ini selalu menjadi contoh abadi bagi kita (2 Timotius 3:16). Tetapi adakah kisah serupa orang Kristen tentang keberanian dan iman di dalam Perjanjian Baru?

Jawabannya ya! Ada juga bacaan di Perjanjian Baru tentang orang-orang yang memperlihatkan kepada kita keberanian yang hebat pada saat yang paling sulit.

Salah satu kisah keberanian yang paling banyak didokumentasikan tentang bagian ini di dalam kitab Suci ialah tentang kisah para rasul — yakni orang-orang yang secara pribadi dipilih Yesus untuk dilatih selama pelayananNya di bumi ini. 

Keberanian rasul-rasul tidak seberapa sebelum dipanggil

Selama 3½ tahun para rasul itu hidup bersama Yesus, mereka tidak begitu berani.

Mereka memiliki keberanian untuk meninggalkan karir mereka dan mengikut Yesus agar menjadi “penjala manusia” (Matius 4:19). Dan Petrus memiliki keberanian dan iman untuk berjalan di atas air mendapati Yesus — paling tidak beberapa saat (Matius 14:25-31)!

Sebagaimana ketegangan antara pemimpin agama dan Yesus memanas sebelum penyaliban Juruselamat, Petrus dengan penuh gairah berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau!" Dan murid lain juga berkata demikian (Matius 26:35).

Kedengarannya bagus. Mereka semua ingin untuk berani. Masalahnya adalah, ketika Yesus digiring ke tahanan, keberanian mereka hilang.

Petrus mencoba menghentikan penangkapan itu dengan menghunus pedangnya dan menetakkan telinga hamba imam besar itu (Matius 26:51). Tetapi ketika Yesus menyuruh Petrus menyarungkan pedangnya sehingga Dia dapat ditangkap untuk menggenapi kitab Suci, “semua murid-murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri” (ayat 56). Kemudian beberapa di antaranya mengikuti untuk melihat apa yang akan terjadi kepada Dia (Yohanes 18:15-16; Matius 27:55-56).

Karena tidak tahu akan berbuat apa dalam situasi itu, para rasul itu menjadi takut.

Para rasul itu dikuatkan oleh Roh Kudus

Setelah Kristus mati dan bangkit lagi, Dia berkata kepada murid-muridNya untuk pergi ke Yerusalem dan tetap tinggal di sana sampai mereka “diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Lukas 24:49). 

Hanya beberapa hari berselang, ketika para pengikut Yesus berkumpul di Yerusalem pada Hari Pentakosta, mereka menerima karunia yang dijanjikan — Roh Kudus Elohim, yakni roh yang memberi kuasa (Kisah Para Rasul 2:4; 2 Timotius 1:7).

Roh Kudus datang dengan tanda-tanda atau bukti fisik: “suatu bunyi seperti tiupan angin” dan “lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” (Kisah Para Rasul 2:2-3). Lebih jauh lagi, mereka secara ajaib berkata-kata dalam bahasa lain (ayat 4).

Sejak saat itu dan seterusnya, kuasa Elohim terus bekerja dan  “banyak sekali keajaiban serta tanda-tanda mujizat dilakukan oleh para rasul” (ayat 43).

Petrus dan Yohanes ditangkap

Salah satu mujizat yang ditunjukkan Tuhan melalui rasul-rasul itu ialah menyembuhkan orang sakit dan yang lemah.

Segera sesudah Hari Pentakosta, Petrus dan Yohanes pergi ke rumah ibadat. Sementara mereka melangkah masuk, Petrus menyembuhkan orang yang lumpuh dari sejak lahir (Kisah Para Rasul 3:1-10).

Daripada bersuka cita dan memuji Elohim atas mujizat yang begitu besar dan menakjubkan itu, pemimpin agama justru marah karena Petrus secara terang-terangan memberi hormat kepada Yesus atas kejadian yang supernatural ini. Mereka semua menjadi begitu marah sehingga menangkap Petrus dan Yohanes dan menahan mereka “sampai keesokan harinya, karena hari telah malam” (Kisah Para Rasul 4:3).

Keberanian rasul-rasul ini untuk menghadapi penguasa agama yang telah merancang kematian Yesus saat itu akan diuji.

Tetapi saat itu mereka telah mempunyai Roh Kudus di dalam mereka untuk menolong mereka menghadapi usaha pemimpin Yahudi yang sangat keras itu untuk menghentikan pelayanan mereka.

Keberanian untuk menghadapi penguasa agama orang Yahudi

Hari berikutnya, ketika Petrus dan Yohanes dibawa ke hadapan majelis otoritas Yahudi yang paling terkemuka, mereka ditanyai, “Dengan kuasa apakah atau dalam nama siapakah kamu melakukan hal ini ?” (ayat 7).

Daripada merasa terintimidasi, “Petrus, yang dipenuhi Roh Kudus, menjawab, ‘Hai para pemimpin bangsa dan tua-tua Israel: jika hari ini kami diperiksa karena berbuat baik kepada orang yang sakit sehingga ia disembuhkan, maka kamu semua dan seluruh bangsa Israel harus tahu, bahwa orang ini sembuh dan berdiri di hadapanmu karena nama Yesus Kristus orang Nazareth yang telah kamu salibkan dan yang telah dibangkitkan Elohim dari kematian. Yesus inilah: “Batu yang dibuang olehmu, hai tukang-tukang bangunan, namun Dia telah menjadi Batu Penjuru.” Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun selain di dalam Yesus, karena di kolong langit ini tidak ada nama lain yang telah diberikan kepada manusia, yang di dalamnya kita dapat diselamatkan’” (ayat 8-12).

Bacaan ini tidak menjelaskan apa yang dikatakan atau dilakukan Yohanes, tetapi kita diberitahu bahwa para petinggi Yahudi heran akan “melihat keberanian Petrus dan Yohanes” (ayat 13).  

Menyadari bahwa mereka tidak dapat menyangkal bahwa sebuah mujizat telah terjadi, para majelis Yahudi itu memutuskan  untuk “mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapapun dalam nama Yesus” (ayat 17-18).  

Jawaban Petrus dan Yohanes yang begitu berani: “Putuskanlah sendiri, manakah yang benar di hadapan Elohim, mendengarkan kamu atau mendengarkan Elohim? Sebab bagi kami tidak mungkin untuk tidak mengatakan apa yang telah kami lihat dan kami dengar” (ayat 19-20).

3 kunci untuk membangun dan mempertahankan keberanian rohani

Setelah berhadapan dengan pemimpin agama itu, Petrus dan Yohanes dilepaskan. Apa yang mereka lakukan berikutnya membangkitkan dan mendorong keberanian mereka untuk meneruskan pelayanan mereka.

Kisah Para Rasul 4:23-31 mencatat tiga aktivitas utama rasul-rasul yang jika kita lakukan dapat memberi kita keberanian rohani.

1:  Mereka menemui orang-orang percaya

Setelah Petrus dan Yohanes dilepaskan, “Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka” (ayat 23). 

Menceritakan apa yang telah terjadi dengan rasul-rasul lain — orang yang menceritakan komitmen yang sama untuk memberitakan injil Kerajaan Elohim — sungguh mendorong/menghibur Petrus dan Yohanes.

Hal itu pastilah mendorong semangat bagi murid-murid lain juga mendengar bagaimana kuasa mujizat Roh Kudus yang menyembuhkan orang lumpuh dan bagaimana Elohim telah memimpin dalam kejadian itu sehingga pemimpin orang Yahudi itu terhalang dalam usaha mereka untuk menghentikan perkembangan pelayanan rasul-rasul itu.

Fellowship [persekutuan] dengan saudara seiman adalah fondasi penting pada kehidupan Kekristenan pada zaman awal, dan menggunakan waktu dengan mereka yang seiman tetap merupakan sarana yang kuat untuk menimbulkan kekuatan rohani hari ini (Kisah Para Rasul 2:42; Filipi 1:5).

2: Mereka berdoa memohon kekuatan

Setelah mendengarkan laporan Petrus dan Yohanes, rasul-rasul itu berdoa kepada Elohim (Kisah Para Rasul 4:24). Di dalam doa mereka, mereka menyebut bahwa Daud menubuatkan bahwa bangsa-bangsa akan “bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapiNya,” yakni Kristus (Mazmur 2:2) dan menyebutkan bahwa hal ini telah terjadi (Kisah Para Rasul 4:27-28).

Kemudian mereka berdoa, “Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hambaMu keberanian untuk memberitakan firmanMu. Ulurkanlah tanganMu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, HambaMu yang kudus" (ayat 29-30).

Selain dari pada memohon keberanian untuk memberitakan firman Elohim, mereka juga memohon agar Elohim terus menunjukkan mujizat di dalam nama Yesus.

3: Mereka berfokus pada masa yang akan datang

Penting bagi kita untuk memperhatikan bagian lain dari doa mereka: Mereka memohon pertolongan untuk memenuhi tugas pemberitaan injil ke semua bangsa yang diberi Kristus kepada mereka (Matius 28:19-20). Mereka tidak mencoba keluar dari komitmen mereka; mereka berfokus pada masa depan!

Barangkali ajaran Yesus ini terukir di dalam hati dan pikiran mereka: “Seorang yang siap membajak namun menoleh ke belakang, ia tidak layak untuk Kerajaan Elohim” (Lukas 9:62).  

Kita membaca bahwa setelah mereka berdoa, “guncanglah tempat mereka berkumpul, dan mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Elohim dengan berani” (Kisah Para Rasul 4:31).

Tiga aktivitas utama ini memperkuat keberanian rohani para rasul, dan ketiga aktivitas ini tetap menjadi pelajaran yang luar biasa bagi kita hari ini.

 

 

This article was translated from http://lifehopeandtruth.com

Tracker Pixel for Entry