Apa itu Sinkretisme Agama? Apakah Elohim Mengakui itu?

oleh Jordan Iacobucci - December 18, 2023

https://lifehopeandtruth.com/god/blog/what-is-religious-syncretism-does-god-accept-it/

Ayat-ayat kutipan artikel ini umumnya diambil dari Alkitab versi: Indonesian Modern Bible, tetapi juga dari Indonesian Terjemahan Baru.

Banyak tradisi populer Kristiani berasal dari sinkretisme. Apa itu sinkretisme agama? Apa contoh modern tentang hal ini? Apakah hal itu masalah bagi Elohim? 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menggabungkan kisah kelahiran Yesus dengan perayaan kuno atas kelahiran dewa matahari adalah contoh utama sinkretisme agama.

Tahun ini, lebih dari 2 miliar orang merayakan — dalam bermacam-macam bentuk — perayaan dunia yang paling populer ini — Hari Natal.

Mereka akan menyanyikan nyanyian, saling bertukar hadiah, membuat dekorasi rumah mereka dengan lampu-lampu hias dan akan mengunjungi keluarga dan kerabat. Bahkan beberapa di antara mereka akan menghadiri acara gereja. Banyak di antaranya, tidak semua, akan melakukan semua ini untuk merayakan kelahiran Yesus. 

Tetapi ini sebuah pernyataan yang tegas: Tetapi Elohim tidak berkenan terhadap apa yang mereka lakukan. 

Tradisi Natal ini merupakan sebuah contoh dari banyak praktek-praktek modern yang tidak memiliki dasar di dalam ayat Suci Alkitab. Sebaliknya, banyak dari tradisi ini, termasuk Hari Natal, berasal dari agama sebelum agama Kristen, yakni agama pagan, penyembah berhala.

Inilah yang disebut tradisi “Kristen”, dan banyak lagi yang lain yang umum kita lihat sekarang ini, yang asal-usulnya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Kekristenan. Pada kenyataannya, semua itu digabungkan ke dalam agama melalui sebuah proses yang disebut sinkretisme.

Sinkretisme memainkan sebuah peranan penting dalam membentuk apa yang umumnya dianggap sebagai Kristiani — dan hal ini sebaiknya menjadi keprihatinan setiap orang yang menganggap dirinya sebagai pengikut Kristus.

Sebelum anda merayakan Natal, anda perlu memahami sinkretisme — apa itu, dan apa yang dikatakan Elohim tentang hal itu dan apa bahaya yang diakibatkannya.

Apa definisi sinkretisme agama?

Menurut Ensiklopedi Britannica, sinkretisme agama ialah “perpaduan bermacam-macam kepercayaan dan praktek agama.”

Meskipun tidak secara eksklusif terhadap Kekristenan, istilah ini umumnya merujuk pada integrasi praktek non-Kristen (pagan) dengan praktek, konsep dan kepercayaan Kristen. Secara lambat laun, Kekristenan tradisi menggabungkan tradisi-tradisi, kepercayaan dan hari-hari perayaan yang bermacam-macam dengan kepercayaan yang berasal dari agama pagan yang adalah agama penyembah berhala.  

Barangkali, hari ini, banyak orang yang mengaku dirinya Kristen kaget karena mengetahui bahwa tradisi dan praktek agama yang mereka hargai berasimilasi dengan Kekristenan melalui sinkretisme dengan paganisme.  

Contoh sinkretisme dalam agama Kristen modern 

Dalam dunia kuno, kelompok yang berbeda sering berasimilasi dengan masing-masing dewa dan praktek untuk mendapatkan pengikut dan sekutu.

Kekaisaran Romawi mahir dalam hal ini, bahwa kebebasan agama hampir tidak terdengar pada saat itu. Sementara kekaisaran itu berkembang dan merangkum bermacam-macam kultur, kekaisaran itu mengakui setiap dewa dari setiap bangsa yang ditaklukkan dan menjadi bagian dari panteon Roma.

Banyak mengira praktek sinkretis Roma berakhir pada abad ke-4 ketika — di bawah rezim Konstantinus Agung — kekaisaran itu mengadopsi Kekristenan. Akan tetapi, bukan itu yang terjadi — sinkretis Roma tidak berakhir. Sebaliknya, bentuk Kekristenan mainstream yang berkembang dari Roma terus meluas terutama dengan memeluk sinkretisme. 

Selama tahun-tahun awal, Gereja Romawi membuat elemen-elemen pengadopsian dari agama-agama lain menjadi praktek umum untuk menarik pengikut-pengikut orang-orang yang beragama paganisme. Mereka percaya bahwa mengakomodasi kepercayaan lain akan memperkuat gereja dan akan menyebabkan pertumbuhan jumlah anggota.

Sejarah menunjukkan bahwa sinkretisme sangat berpengaruh kuat pada masa perkembangan pengikut gereja. Dalam bukunya, Christianity and Paganism in the Fourth to Eighth Centuries, sejarawan Ramsay MacMullen menuliskan, “Kemenangan gereja adalah salah satu dari penghapusan [kepercayaan non-Kristian] tetapi justru memperluas pemelukan dan asimilasi” (1997, p.159).

Perubahan ini tidak berlaku sementara. Banyak kompromi sinkretis yang dibuat oleh Gereja Katolik Roma dari abad ke-4 hingga ke-8  masih umum di kalangan Kekristenan hari ini.

Sebagian besar perayaan orang Kristen modern bisa dengan mudah ditelusuri ke belakang dan itu berasal dari perayaan-perayaan pagan.

Misalnya, adalah pengetahuan umum bahwa Natal menggantikan perayaan Saturnalia Romawi, yang terjadi pada akhir Desember dalam kalender Roma. 

Menurut sebuah artikel yang dimuat di History.com: “Hal itu umumnya dipercaya bahwa gereja memilih penanggalan ini dalam usaha mengadopsi dan menyerap tradisi-tradisi perayaan Saturnalia paganisme” (“History of Christmas”).

Lagi pula, para pengikut Katolik mengendors penggunaan gambar-gambar dan patung-patung untuk doa. Penggambaran ini, yang dianggap menampilkan Kristus, Elohim Bapa, salib, Bunda Maria dan para rasul, sebenarnya mempunyai persamaan karakteristik dewa-dewa Greco-Romawi dari zaman kuno. Menghadapi kekurangan deskripsi alkitabiah untuk kepribadian ini, seniman/ahli lukis Katolik menggambarkan inspirasi dari gambaran dewa-dewa pada masa lalu.

Kekristenan modern diinfus dengan banyak praktek-praktek yang berasal dari paganisme. Namun, apakah itu masalah bahwa agama digabungkan dengan elemen-elemen sinkretis paganisme?

Apakah Elohim mengakui sinkretisme agama?

Alkitab memberi ajaran yang jelas bagaimana beribadah kepada Elohim, dengan merinci bagaimana Dia harus disembah — dan bagaimana cara ibadah yang tidak berkenan bagi Dia. 

Cobalah perhatikan ini: Jika Elohim memerintahkan kita secara rinci bagaimana beribadah kepada Dia dan menghormati Dia, apa dalih manusia untuk mempunyai hak merubah cara ibadah itu dengan dasar apa yang kita inginkan?   

Dalam kitab Ulangan 12:29-31, ketika orang Israel akan segera memiliki Tanah Perjanjian itu, Elohim memperingatkan mereka dengan tegas untuk tidak mengikuti praktek ibadah bangsa-bangsa di sekitar. Dia memerintahkan mereka untuk tidak menjadi terpikat dengan cara orang-orang sekitar menyembah dewa-dewa mereka.

Dalam ayat 31, Dia berkata: “Jangan engkau berbuat demikian kepada YAHWEH, Elohimmu, karena mereka melakukan segala kekejian bagi YAHWEH, yakni apa yang dibenciNya, itulah yang dilakukan mereka bagi ilah-ilah mereka. Sebab, mereka membakar anak-anak lelakinya dan anak-anak perempuannya bagi ilah-ilah mereka.”

Orang Israel tidak mengindahkan peringatan Elohim ini dan mereka akhirnya dihukum dengan mengirim mereka ke pembuangan karena mereka mengadopsi ritual pagan ke dalam ibadah mereka. Daripada menjadi role model sebagai bangsa-bangsa yang saleh kepada Elohim melalui ibadah yang suci, mereka justru menyatukan banyak elemen-elemen ibadah pagan — khususnya dari agama orang Mesir, Kanaan dan Babylon — dengan ibadah mereka.

Sementara contoh ekstrim pengorbanan anak disebutkan di Ulangan 12, bukan hanya praktek keji yang dilakukan pagan ini yang dilarang Elohim untuk ditiru oleh umatNya dalam ibadah mereka. Tetapi mereka [pagan] melakukan “setiap kejijikan,” termasuk semua dosa-dosa rohani yang dikutuk Elohim.

Elohim mengutuk tindakan pengorbanan anak dan juga mencela pemujaan berhala dan hari-hari perayaan pagan. Itu semua salah. Kita tidak boleh memilih praktek penyembahan berhala dan “mengkristenkan.” Pada kenyatannya, tidak satu pun perayaan paganisme dapat di “Kristenkan” karena orang Kristen sejati harus menghindari ibadah pagan secara menyeluruh. 

Tetapi beberapa orang mungkin tidak setuju dalam hal ini.

Dalam agama Kristen mainstream, beberapa orang percaya bahwa jika sebuah praktek pagan dikemas ulang menjadi tujuan “memuji” Elohim, itu menghentikan pagan. Bagaimanapun juga, bukankah Elohim sungguh memperhatikan bagaimana kita menyembah Dia, selama hal itu kita lakukan di dalam kasih?

Tetapi coba perhatikan analogi ini: Jika seorang kerabat merasa alergi terhadap anjing, anda tentu tidak akan memberi dia anjing. Demikian pula, jika seorang sahabat mempunyai rasa takut akan ketinggian, anda tentu tidak akan mengajak dia untuk bungee jumping untuk merayakan persahabatan dengan dia.  Kita berusaha keras untuk mengakomodasi preferensi manusia, namun tidak banyak yang sudi untuk membuat sedikit pun usaha untuk menyelaraskan praktek-praktek mereka dengan preferensi Elohim.

Tidak peduli seberapa baik niat ibadah kita, niat baik tidak dapat mentransformasi sesuatu yang berasal dari pagan ke dalam sesuatu menjadi kebenaran. Kristen disebut tidak hanya untuk menyembah Elohim dalam kasih; mereka juga diarahkan untuk menyembah Dia dalam kebenaran (Yohanes 4:23-24). Dengan kata lain, ibadah mereka harus selaras dengan kehendak IlahiNya.

Dan Elohim tidak berubah (Maleakhi 3:6). Jika Elohim tidak berkenan dengan ritual pagan ribuan tahun lalu, sekarang Dia masih tetap tidak berkenan terhadap versi “Kristen” yang sudah disanitasi dari ritual yang sama.

Untuk pelajaran lebih lanjut yang membahas penggabungan paganisme dengan ajaran Alkitab, bacalah artikel kami — pada situs ini — yang berjudul “Apakah Masalah Bahwa Natal Itu Pagan?”; “Empat Alasan bahwa Hari Natal itu Bukanlah Kristiani”; Apakah Yesus Akan Merayakan Natal?” dan “Natal: Seharusnyakah Orang Kristen Merayakan Itu?”

Beribadahlah kepada Elohim seperti yang Dia perintahkan

Pada zaman modern, bisa dengan mudah mengadopsi tradisi Kekristenan mainstream tanpa merefleksikannya pada asal usulnya.

Tradisi tidak selamanya buruk (2 Tesalonika 2:15), tetapi hanya apabila tradisi itu berada dalam batas-batas hukum Elohim. Tradisi pagan, tidak peduli entah itu tulus, berada di luar batas-batas hukum Elohim.

Banyak tradisi “Kristen” (seperti Natal, Easter dan kebaktian Minggu) dan simbol-simbol merupakan tradisi paganisme yang dikemas ulang. Sementara orang mungkin percaya praktek-praktek ini sekarang telah menjadi “Kristen,” Elohim, yang adalah Sang Pencipta yang maha mengetahui, mengingat asal usul semua tradisi ini.

Orang Kristen sejati menyelaraskan kepercayaan dan ibadah mereka  dengan kehendak Elohim dan mematuhi perintah-perintahNya (Yohanes 14:15, 23-24), dan bukan mencoba memaksakan bentuk pilihan ibadah mereka bagi Elohim.

Firman Elohim yang diilhami, Alkitab, memberikan petunjuk untuk ibadah dan kepercayaan. Jika kita menciptakan atau mengembangkan praktek ibadah agama kita sendiri, apakah kita sungguh menyembah Dia — atau justru lain?

Kami mendorong pembaca untuk dengan tulus menguji praktek-praktek agama mereka. Apakah kepercayaan dan ibadah anda berdasar pada sinkretisme agama? Jika demikian, kami mendorong anda melihat Firman Tuhan secara serius dan mempelajari ibadah yang bagaimana yang berkenan bagi Dia.

 

 

This article was translated from http://lifehopeandtruth.com

Tracker Pixel for Entry