Arti Injil Yohanes 14:15 “Jika kamu mengasihi Aku, peliharalah perintah-perintahKu!”

oleh Jordan Iacobucci 

https://lifehopeandtruth.com/god/blog/the-meaning-of-john-14-15-if-you-love-me-keep-my-commandments/

Ayat-ayat kutipan artikel ini umumnya diambil dari Alkitab versi: Indonesian Modern Bible, tetapi juga dari Indonesian Terjemahan Baru.

Di dalam Yohanes 14:15, Yesus Kristus memberi kita tes lakmus untuk melihat apakah kita sungguh mengasihi Dia. Apakah kasih kepada Elohim itu memerlukan tindakan kita?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa yang dikatakan Yohanes 14:15?

“Jika kamu mengasihi Aku, peliharalah perintah-perintahKu!”

Apakah anda mengasihi Elohim?

Sebagian besar orang di kalangan Kristen akan cepat menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan ya! Tetapi itu bukanlah sesederhana yang mereka anggap.

Kita harus mengasihi Elohim — Dia sesungguhnya menghendaki kita untuk mengasihi Dia! Tetapi apa sebenarnya maksud  mengasihi Dia?

Apakah cukup sekedar berkata, “Aku mengasihi Engkau, Elohim”? Apakah cukup hanya sekedar mempunyai perasaan kasih?

Banyak orang mengakui bahwa mereka mengasihi Elohim — dan mengekspresikannya dengan perkataan. Tetapi apakah mereka mengasihi Dia dan menunjukkan kepada Dia kasih seperti yang Dia perintahkan?  Apakah mereka memahami apa arti sebenarnya mengasihi Elohim?

Mungkin kedengarannya mengejutkan, tetapi sebagian besar orang yang mengaku Kristen tidak mengasihi Elohim menurut definisi kasihNya

Elohim menjelaskan kepada kita apa yang Dia maksudkan mengasihi Dia.

Alkitab memberi kita instruksi yang jelas bagaimana Elohim menginginkan kita untuk memanifestasikan kasih kita kepada Dia. Sayangnya, dunia ini, hari ini, mengabaikan firmanNya.

Jadi, apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan mengasihi Elohim? Mari kita bahas apa yang dikatakan firmanNya.

Jika anda mengasihi Dia, turutilah perintah-perintahNya

Di dalam Yohanes 14:15, Yesus Kristus mengatakannya dengan jelas bagaimana murid-muridNya menunjukkan kasih kepadaNya: “Jikalau kamu mengasihi Aku turutilah segala perintahKu.”

Sungguh tegas! Tidak ada alasan lain. Jika orang mengasihi Yesus Kristus, maka dia akan menuruti segala perintahNya.

Yesus Kristus menegaskan poin yang sama pada lima kesempatan yang berbeda. Dia berkata:

  • “Jika kamu mengasihi Aku, peliharalah perintah-perintahKu” (Yohanes 14:15).
  • “Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku” (ayat 21).
  • "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu” (ayat 23).
  • “Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu” (Yohanes 15:10).
  • “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (ayat 14).

Jika Yesus Kristus, Anak Elohim, menyebutkan ulang hal yang sama sebanyak lima kali pada malam sebelum kematianNya, maka Dia menghendaki kita untuk memperhatikan itu. 

PerkataanNya dapat disimpulkan dalam sebuah pernyataan “jika, maka.”

Jika anda mengasihi Elohim, maka anda akan menuruti perintah-perintahNya.

Kebalikannya sama:

Jika anda tidak menuruti perintah-perintah Elohim, maka sesungguhnya anda tidak mengasihi Dia.

Dengan mengatakan bahwa anda mengasihi Elohim itu baik. Memuji Dia dalam nyanyian juga baik. Tetapi apa yang sesungguhnya yang Dia inginkan dari kita ialah ketaatan (1 Samuel 15:22).

Masalahnya ialah, sebagian besar orang tidak mau taat kepada Elohim (Roma 8:7).

Mengapa begitu banyak orang yang mengklaim mereka mengikuti Kristus, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mengikuti dan mempraktekkan apa yang Dia perintahkan? Terlalu sering, orang yang mengaku mereka Kristen dan dengan keras berkata mereka  mengasihi Dia, tetapi mereka hanya berkata di bibir saja. Mereka tidak melakukan apa yang diharapkan Kristus untuk mereka lakukan sebagai wujud dari kasih mereka.

Coba kita bayangkan sebuah pasangan yang baru menikah. Mengatakan “Aku mencintaimu,” itu  tidak akan berarti jika satu di antara mereka selingkuh. Ucapan “Aku mencintaimu” akan menjadi kosong karena perbuatannya.

Hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang berkata mereka mengasihi Elohim tetapi terus mengabaikan perintah-perintahNya. Mereka tidak sungguh-sungguh mengasihiNya — ucapan mereka sama sekali tidak bernilai apa-apa.

Jenis kasih yang mereka ucapkan ini hampa — tidak berarti apa-apa. Anda dapat dengan keras mengucapkan kasihmu — anda dapat nyanyikan itu dari tempat tinggi — tetapi, itu hanya sekedar perkataan dan nyanyian hanya sekedar nyanyian. Elohim mengharapkan — yang pantas bagi Dia — kepatuhan/ketaatan.

Kasih pasif tidak cukup

Sebagian besar orang tidak dengan sengaja untuk tidak taat kepada Elohim. Banyak Kristen mainstream  tulus percaya bahwa mereka bersemangat menunjukkan kasih kepada Dia. Masalahnya ialah, dunia kita telah memutarbalikkan arti kasih yang sesungguhnya.

Banyak orang di Kekristenan mainstream telah mematikan tanggung jawab kasih dan menurunkannya menjadi sekedar perasaan. Mereka mengklaim bahwa perasaan kasih terhadap Elohim sudah cukup dan bahwa tidak ada lagi yang diperlukan.

Tetapi kasih seperti ini tidaklah cukup. Kasih yang mengabaikan apa yang diperintahkan Elohim secara eksplisit kepada kita untuk kita lakukan bukanlah kasih yang sesungguhnya.

Beberapa orang menyalahartikan ayat kitab Suci seperti 1 Yohanes 5:1 yang mengatakan, “Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, ia lahir dari Elohim; dan setiap orang yang mengasihi Elohim, juga mengasihi yang telah dilahirkanNya.”

Bukankah ini menjelaskan kepada kita bahwa semua yang kita perlukan ialah mengasihi Elohim dan percaya kepada Dia? Mari kita baca berikutnya:

“Dengan ini kita tahu bahwa kita mengasihi anak-anak Elohim, ketika kita mengasihi Elohim dan memelihara perintah-perintahNya” (ayat 2).

Yohanes melanjutkan di ayat 3: “Sebab inilah kasih kita kepada Elohim, bahwa kita memelihara perintah-perintahNya, dan perintah-perintahNya itu tidak berat” (ayat 3).

Sebagaimana dimaksudkan Yohanes, kasih sejati jauh lebih berbeda dari sekedar bentuk kasih pasif yang sering diucapkan banyak orang hari ini. Elohim menghendaki perbuatan kasih itu. Sebab bagaimana pun juga, “jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17). 

Yesus memperingatkan mereka. Mereka memanggil Dia “Tuhan,” namun tidak menaati perintah-perintahNya yang sama seperti orang yang mendirikan rumahnya di atas pasir (Lukas 6:46-49).

Apabila orang sungguh-sungguh mengasihi Elohim, mereka akan menunjukkan itu melalui cara hidup mereka. Dan kita patut bersyukur sebab Elohim memberi kita Alkitab yang memberi kita pengajaran bagaimana cara hidup dan mengasihi Dia.

Dan hal ini menyisahkan satu pertanyaan: Perintah Elohim yang mana yang kita patuhi?

Perintah yang mana yang kita patuhi?

Yesus tidak berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, lakukanlah perintah-perintah yang nyaman bagimu,” atau, “Jika kamu mengasihi Aku, lakukanlah perintah-perintah yang cocok untuk gaya hidup mu.”  

Tetapi Yesus berkata, “Turutilah perintah-perintahKu,” dan itu berarti seluruh perintahNya — seluruh perintahNya. Entah itu nyaman atau tidak.

Jika kasih kita kepada Elohim hanya sekedar melakukan perintah-perintah yang menurut kita  nyaman bagi kita, maka kasih kita itu adalah kasih yang dangkal.

Jadi, perintah Elohim yang mana yang kita lakukan dengan taat.

Seluruhnya.

Setiap perintah yang Dia ucapkan baik yang mudah kita lakukan maupun yang tidak mudah bagi kita. Perintah yang nyaman bagi kita maupun yang tidak nyaman yang memerlukan usaha untuk menurutinya. Menaati perintah-perintah Elohim bukan menurut cara kita dan bukan kita yang memutuskan perintah yang mana yang harus kita ikuti.

Kasihilah Dia dan lakukan perintah-perintahNya

Bagi mereka yang mengasihi Elohim — yang sungguh mengasihi Dia — adalah mereka yang mendengarkan dan melakukan apa yang Dia perintahkan. Menyembah Dia bukan dengan cara yang kita pilih, bukan menurut cara kita. Tetapi Elohim sendiri yang mengatakan bagaimana Dia menghendaki kita untuk mengasihi Dia: dengan cara melakukan apa yang Dia perintahkan untuk kita lakukan.

Kedengarannya sederhana. Dan memang hal itu sederhana (meskipun tidak selalu mudah). Pilihan itu sederhana, yakni sesederhana kita mendengar apa yang Dia katakan dan melakukannya.

Sebanyak apapun kata-kata mengasihi tidak akan pernah bisa menggantikan ketaatan yang sungguh dalam hal mengasihi Elohim — setulus apa pun perkataan dan perasaan — tidak akan dapat menggantikan sebuah sikap dan perbuatan nyata dalam kepatuhan. Bahkan perbuatan baik/amal bukanlah merupakan kasih di mata Elohim jika kita tidak rela mengikuti dan menaati Dia.

Apakah anda mengasihi Elohim? Buktikan itu melalui ketaatan anda.

 

 

This article was translated from http://lifehopeandtruth.com

Tracker Pixel for Entry