Bagaimana Mengenal Yesus yang Sesungguhnya
Posted on November 13, 2025
oleh Kendrick Diaz
Bagikan artikel
[Artikel Inggris]
Sangat sedikit dicatat tentang bagaimana rupa Yesus, tetapi kita masih bisa mengenal Dia.
Ayat-ayat kutipan artikel ini umumnya diambil dari Alkitab versi: Indonesian Modern Bible, tetapi juga dari Indonesian Terjemahan Baru.

Pada saat pelajaran sejarah kesenian di kelas sekolah menengah atas, saya diperlihatkan beberapa buah karya seni yang menggambarkan Yesus. Ada gambaran Yesus abad pertengahan, gambaran Yesus abad pembaharuan dan Yesus zaman Barok — masing-masing berbeda dalam menunjukkan keilahian Anak Elohim.
Tetapi sebagai seorang Kristen hal itu barangkali bertentangan bagi beberapa orang, saya sama sekali tidak tertarik dalam spekulasi gambaran Kristus. Keberatan saya ada dua hal: Pertama, bahwa hal itu melanggar hukum yang kedua yang melarang pembuatan patung Elohim. Dan yang kedua, Alkitab tidak memberikan secara lengkap informasi tentang figur Yesus, jadi semua gambar-gambar ini tidak akurat dan tidak bermanfaat.
Dalam hal apa pun, bagaimana anda membenarkan Dia terlihat sebagai seorang Eropa yang jangkung padahal Yesus adalah seorang Yahudi dan tinggal di Timur Tengah?
Alkitab memberi kita hanya sedikit gambaran tentang bagaimana rupa Yesus secara fisik, dan memang Elohim menghendakinya seperti itu.
Tantangan menghubungkannya kepada kenyataan
Mengetahui bagaimana rupa seseorang sepertinya hal yang mendasar untuk sebuah hubungan. Sahabat-sahabat kita dan kenalan kita terlukis di benak kita melalui wajah mereka.
Tetapi dengan Yesus Kristus, yang adalah Pribadi dimana orang Kristen berusaha dekat kepadaNya, elemen visual itu tidak ada pada kita. Para rasul, yang menghabiskan waktu mereka selama 3½ tahun berjalan bersama Dia dalam pelayananNya, sangat mungkin bisa menggambarkan apa yang mereka lihat dengan mata mereka sendiri, apa yang mereka dengar dengan telinga mereka dan apa yang mereka jamah dengan tangan mereka (1 Yohanes 1:1). Tetapi bagi kita, dan bagi orang-orang Kristen dalam sejarah, wajah riil Yesus tetap sebuah misteri.
Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: Mengapa Elohim memilih untuk tidak menyatakan dalam FirmanNya secara detil gambaran AnakNya?
Adalah penting untuk kita pahami mengapa aspek visual Yesus, yang beberapa orang anggap penting untuk digambarkan, tetapi Elohim tidak nyatakan itu di dalam Alkitab.
Melihat tidak selalu membuat kita percaya.
Yohanes 2:24-25 menyoroti kelemahan manusia. Pada poin ini, pelayanan Yesus membuka pengertian yang lebih jelas. Dia memberitakan Injil itu dengan penuh kuasa, membuat mujizat-mujizat yang membuat orang berkerumun dengan antusias berkata mereka percaya kepada Dia. Kegembiraan tentang Yesus, itu sangat terlihat jelas.
Tetapi kita tahu bahwa “Yesus tidak mengikatkan DiriNya kepada mereka, karena Dia mengetahui semua manusia, dan tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepadaNya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.”
Antusiasme memang perlu, tetapi kepercayaan yang tulus merupakan suatu hal penting. Yesus memahami kelemahan manusia — Dia memahami bahwa “iman” mereka tidak berakar pada inti pemberitaanNya atau pada kekuatan karakterNya. Iman mereka hanya tergerak oleh mujizat-mujizat yang mereka saksikan, yakni yang dilakukan Yesus.
Ketertarikan mereka terhadap Yesus hanya sekedar apa yang Dia perlihatkan kepada mereka melalui pengalaman nyata mereka — hal-hal yang mereka lihat atau rasakan secara langsung.
Yesus memahami itu, sebagaimana Dia sekarang juga mengetahui apa yang ada di dalam pikiran manusia.
Kita melihat pola yang sama bahwa orang ingin melihat foto atau sebuah gambar Yesus. Orang mendambakan sesuatu yang kelihatan yang membuat kepercayaan mereka terasa lebih nyata, lebih kuat melalui apa yang mereka lihat dan sentuh.
Jadi, seniman menciptakan gambar wujud Yesus, untuk membuat ibadah mereka lebih substantif. Tetapi hal ini sesungguhnya justru merendahkan Dia. Kita justru bisa kehilangan inti makna ibadah, yakni apa yang diinginkan Elohim terhadap kita untuk mengenal karakter Yesus secara lebih mendalam, dan lebih dekat.
Sebagaimana Paulus menuliskan, “Sebab, Elohimlah yang berfirman, ‘Dari gelap, terbitlah terang.’ Dialah yang bersinar dalam hati kita untuk memberi terang pengetahuan tentang kemuliaan Elohim yang nampak pada wajah Yesus Kristus” (2 Korintus 4:6).
Karena kita tidak mempunyai gambar Yesus yang nyata dan tidak punya tampilan wajahNya, Elohim menyatakan anakNya dengan cara lain. Pada dasarnya ada dua cara yang Dia gunakan untuk memberikan gambaran ini kepada kita berikut ini.
Ayat-ayat Alkitab sebagai sebuah jendela
Cara pertama yang kita pelajari tentang Yesus ialah melalui ayat-ayat Alkitab.
Keempat Injil itu memberi kesaksian lebih dari pada sekedar sebuah alur cerita di dalam rencana besar Elohim bagi umat manusia — injil ini merupakan sebuah jendela untuk memahami pikiran dan karakter Yesus Kristus.
Adalah melalui ayat-ayat Alkitab kita dapat mempelajari bahwa Yesus adalah Pribadi yang baik dan penuh kasih sayang, yang menyambut anak-anak ke dalam pangkuanNya meskipun murid-muridNya mencoba mengusir mereka (Markus 10:13-16). Adalah melalui ayat-ayat Alkitab kita melihat kasih sayangnya dan empatinya terhadap orang-orang lemah dan yang tak berdaya. Adalah melalui ayat-ayat Alkitab kita memahami bahwa Yesus memiliki hati yang lembut bagi mereka yang tersesat dan yang diperas oleh orang lain, bahwa Dia melihat mereka sebagai “domba yang tidak bergembala” (Matius 9:36-37).
Kita juga dapat membaca banyak hal-ikhwal Yesus Kristus — bahwa Dia menghargai saat tenang/teduh, bahwa Dia sering meninggalkan keramaian sejenak untuk berdoa dan merefleksikan BapaNya (Lukas 5:16; Markus 1:35); bahwa Dia senang dan menikmati pertemanan dengan orang lain (Lukas 7:34); dan bahwa Dia ada dan berbicara di hadapan khalayak ramai tetapi juga mengajar dengan akrab pada situasi pribadi (Markus 4:34; Yohanes 4:7-26).
Yesus adalah semata-mata tentang kehidupan akan keadilan, tetapi Dia juga penuh dengan belas kasihan. Dia selalu berterus terang dan berani (Yohanes 2:15-16), Dia juga lemah lembut dan rendah hati (Matius 11:29). Dalam segala hal, Yesus dengan sempurna merefleksikan Elohim Bapa.
Sekarang, coba bayangkan bahwa sekalipun ada seniman di dunia ini yang paling mahir untuk mewujudkan karakter ini di dalam bentuk gambar atau lukisan, maka hal itu jelas kita pahami betapa tidak mungkin hal itu bisa dilakukan. Karakter dan pikiran Yesus yang mulia itu tidak mungkin untuk diilustrasikan begitu saja, tetapi hal itu akan disalahartikan dan akhirnya sangat membatasi keilahianNya.
Sekarang, kita tidak mempunyai gambar atau foto Yesus Kristus, tetapi kita mempunyai sesuatu yang jauh lebih baik — suatu yang lebih memuaskan untuk mengenal Dia. Kita mempunyai dokumen (Alkitab) tentang teladan pribadiNya.
Belajar sembari melakukan
Cara kedua yang diajarkan Elohim akan pengetahuan mulia tentang AnakNya ialah melalui Roh Kudus.
Di dalam ayat Alkitab, pemberi penjelasan yang berbeda berkaitan dengan Roh Kudus Elohim untuk menolong kita memahami apa yang bisa kita lakukan dan dapatkan di dalam kehidupan Kristen. Satu di antaranya ialah “Roh hikmat dan pengertian” (Yesaya 11:2)
Apabila kita melihat berita Injil itu, kita memahami bahwa semua itu pada dasarnya merupakan koleksi perkataan. Tanggung jawab kita ialah menghubungkan perkataan itu, membentuk konsep, menginternalisasi maknanya dan menjadikannya sebagai penuntun di dalam kehidupan kita sehari hari.
Tetapi ini tantangannya: kita selalu tergoda untuk membaca terlalu banyak atau mencari-cari bukti yang membenarkan pandangan kita sendiri tentang apa yang kita percayai, sementara itu kita mengabaikan sebagian besar lainnya. Ini berarti bahwa kita senantiasa menghadapi bahaya menggambarkan Yesus menurut pandangan kita sendiri, dan tidak melihat Dia yang sesungguhnya.
Di sinilah dimana Roh pengertian itu mau datang untuk menolong kita. Belajar kebenaran Yesus Kristus secara mendalam adalah proses lambat laun, tetapi Elohim, melalui RohNya, memberi kita pemahaman yang kita butuhkan. Dia memberi kita pengertian untuk menolong kita memiliki hubungan yang benar, dan mencapai tujuan atau kesimpulan yang benar dan menyatukan gambar Kristus yang setia — yakni, yang kita perjuangkan untuk menjadi sesuatu yang merefleksikan kita.
Tetapi peranan Roh itu dalam menolong kita mengenal Kristus bekerja jauh lebih mendalam.
Rasul Yohanes membuat suatu observasi yang krusial: “Dan dengan ini kita mengetahui, bahwa kita mengenal Dia, jika kita memelihara perintah-perintahNya” (1 Yohanes 2:3). Versi Amplified Bible berbunyi seperti ini: “And this is how we know [daily, by experience] that we have come to know Him [to understand Him and be more deeply acquainted with Him]: if we habitually keep [focused on His precepts and obey] His commandments.” Dan inilah cara kita untuk mengenal [setiap hari, melalui pengalaman] bahwa kita mengenal Dia [memahami Dia dan bergaul dengan Dia secara lebih mendalam]: jika kita terus melakukan ajaran dan menaati perintah-perintahNya.”
Satu karakteristik khusus dari Roh Kudus ialah kuasanya untuk menolong kita menaati Elohim (Roma 8:4-5), yang membuka pintu pengenalan tentang Kristus secara lebih mendalam, dan memiliki hubungan yang lebih erat. Ketika kita menaati Elohim, yakni yang adalah motivasi Yesus di dalam kehidupanNya, kita akan lebih mengenal Yesus secara pribadi dan mengenal Dia melalui pengalaman pribadi.
Dengan kata lain kita belajar melalui perbuatan kita.
Sementara kita belajar mengenal Yesus melalui bacaan ayat-ayat Alkitab, belajar mengenal Dia yang sesungguhnya ialah ketika kita menggunakan bimbingan Roh Kudus mengikuti teladanNya di dalam kehidupan kita. Hal ini memberi kita pemahaman langsung dan secara pribadi tentang Dia — suatu pengetahuan yang berarti secara luar dan dalam.
Bagi mereka yang ada di antara kita yang memiliki Roh Elohim, yang sungguh mengenal Yesus membiarkan teladanNya menjadi wujud dari cara pikir and perbuatan kita. Dan di situ kita melihat karakter Kristus bertumbuh di dalam kehidupan kita sembari kita mengikuti pimpinanNya.
Pengetahuan yang benar tentang Elohim
Selama 2,000 tahun, sebagian besar orang Kristen telah menjadi sebuah kelompok dimana Yesus menyebutkan dalam firmanNya. “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29).
Kepercayaan kita di dalam Yesus bukanlah berdasarkan interpretasi artistik tiruan; tetapi tertanam pada fondasi abadi Firman dan Roh Elohim.
Pemahaman yang seutuhnya tentang Kritus tidak akan terpahami sebelum pada hari kebangkitan, ketika tubuh jasmani kita diubahkan ke dalam tubuh roh dan akhirnya akan melihat Sang Pencipta kita dalam keadaan yang sebenarnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Yohanes, “Kita akan menjadi serupa dengan Dia, karena kita akan melihat Dia sebagaimana Dia ada” (1 Yohanes 3:2).
Hingga pada hari itu, Firman dan RohNya sudah lebih dari pada cukup untuk memberi kita pengetahuan tentang Kristus, itu jauh lebih berarti daripada apapun yang bisa diartikan melalui sebuah gambar atau lukisan.

