Kapan Bait Suci Ketiga Akan Dibangun?

oleh David Treybig

https://lifehopeandtruth.com/prophecy/middle-east/third-temple/

Ayat-ayat kutipan artikel ini diambil dari Alkitab versi: Indonesian Modern Bible, dan juga dari Indonesian Terjemahan Baru.

Orang Israel telah membangun dua bait Suci bagi Elohim di Yerusalem, dan keduanya telah dihancurkan. Apa yang dikatakan Alkitab tentang bait Suci ketiga?

 

 

 

 

 

 
Aerial view of the Temple Mount in Jerusalem. Will a third temple be built here?                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      (Photo by Godot13 [CC-BY-SA-3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)], via Wikimedia Commons)

Bait Suci Elohim di Yerusalem adalah sebuah tema besar di dalam sejarah Alkitab dan nubuat. Sejak bait Suci kedua dihancurkan pada tahun 70 setelah Masehi dan sekarang ini bait Suci tidak ada di Yerusalem, banyak orang yang mempelajari nubuat Alkitab penasaran kapan bait Suci ini akan dibangun kembali.

Karena Alkitab menubuatkan bahwa korban sehari-hari akhir zaman akan dihentikan (Daniel 12:11), banyak orang menyimpulkan bahwa bait Suci itu akan dibangun kembali sebelum penghentian korban itu. Apa yang dikatakan Alkitab tentang bait Suci ketiga dan kapan itu akan dibangun?

Untuk memahami bait Suci ketiga ini dengan benar, kita perlu memahami sejarah dan arti bait Suci pertama dan kedua di Yerusalem.

Sejarah bait Suci

Bait tempat tinggal pertama yang akan dibangun untuk menghormati Elohim Alkitab bermula dari Raja Daud bangsa Israel. “Berkatalah raja kepada nabi Nathan, ‘Lihatlah sekarang, aku tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari kayu aras, padahal tabut Elohim ditempatkan di dalam kemah’" (2 Samuel 7:2).

Meskipun Elohim telah mengarahkan bangsa Israel untuk mendirikan sebuah tabernakel – yakni kemah yang dengan mudah berpindah-pindah sesuai dengan pengembaraan mereka di padang gurun (Keluaran 25-26) – Dia tidak meminta mereka untuk membangun “bagiNya rumah dari kayu aras” (2 Samuel 7:7). 

Elohim tentu senang dengan hasrat dan keinginan Daud akan mendirikan “rumah” bagiNya tetapi tidak mengizinkan Daud untuk mendirikan bangunan permanen bagiNya. Daripada mengizinkan Daud membangun bagiNya sebuah rumah Tuhan, Elohim justru berjanji kepada Daud bahwa Dia akan membuat “rumah” bagi Daud – yang artinya bahwa Elohim akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya – dan bahwa anak kandung Daud akan membangun “rumah Tuhan” demi nama Elohim (ayat 11-13).

Solomon’s temple [Bait Suci yang didirikan Salomo]

Sebagaimana dijanjikan oleh Elohim, satu dari anak-anak Daud, Salomo, mulai “mendirikan “rumah bagi TUHAN”  (1 Raja-raja 6:1). Bait Suci ini berlokasi di Gunung Moria di Yerusalem yang akrab dikenal sebagai Solomon’s temple yang berlokasi di Temple Mount.

Setelah selesai dibangun, bait ini menjadi pusat peribadatan agama di Israel. Selama kurang lebih 400 tahun dari sejak pendiriannya, selama pemerintahan Salomo hingga dihancurkan oleh kerajaan Babylonia pada tahun 586 sebelum Masehi (2 Raja-raja 25:9).

Di mana lokasi Temple Mount itu?

Di mana bait Salomo itu didirikan? Itu didirikan di atas tanah Temple Mount, sebuah daerah dataran yang luasnya kira-kira 36 hektar pada Gunung Moria di Yerusalem. Daerah ini memiliki banyak sejarah. Ke tempat itulah Abraham di suruh Elohim untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban (Kejadian 22:2, 14).

Bertahun-tahun kemudian, setelah Daud berdosa karena telah mengadakan sensus orang Israel, dia membeli sebuah tempat pengirikan yang berada di lokasi ini dari Ornan. Setelah mempersembahkan korban dari lokasi ini dan disambut oleh Elohim, David berkata, “Di sinilah rumah TUHAN, Elohim kita, dan di sinilah mezbah untuk korban bakaran orang Israel” (1 Tawarikh 21:18-30; 22:1).

Ketika Salomo mulai membangun bait yang dinamai menurut namanya, bait itu berlokasi di “Yerusalem, di gunung Moria, tempat yang dilihat oleh Daud, ayahnya, dan yang telah dipersiapkannya, yaitu tempat pengirikan gandum Ornan orang Yebus” (2 Tawarikh 3:1).

Yerusalem juga disebut Sion, dan lokasi ini secara spesifik dipilih oleh Elohim. Dia “telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukanNya (Mazmur 132:13). Di situlah tempat dimana Elohim katakan Dia akan menaruh namaNya “selama-lamanya” (2 Raja-raja 21:7; 2 Tawarikh 33:7).

Bait kedua

Setelah 70 tahun dalam pembuangan di Kekaisaran Babylonia, orang Yahudi, melalui Raja Koresh, diperbolehkan pulang ke Yerusalem untuk membangun bait Suci. Elohim telah menubuatkan hal itu bertahun-tahun bahkan sebelum Koresh lahir. Yesaya 44:28 mencatat nubuat ini: “Dia gembalaKu; segala kehendakKu akan digenapinya dengan mengatakan tentang Yerusalem: “Baiklah ia dibangun!” dan tentang Bait Suci: ‘Baiklah diletakkan dasarnya!”’”

Meskipun orang-orang Yahudi segera memulai pembangunan bait itu setelah sampai di Yerusalem, banyak pihak-pihak penentang dari negara-negara tetangga dan orang Yahudi sendiri yang tidak teguh menghalangi pembangunan itu.

Melalui nabi Hagai, Elohim mendorong agar orang Yahudi menyelesaikan proyek pembangunan itu. “Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: ‘Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?’” (Hagai 1:3-4).

Akhirnya, kira-kira tahun 515 sebelum Masehi bait Suci itu dibangun di tempat yang sama dimana itu telah berdiri.

Banyak sumber, seperti, the International Standard Bible Encyclopedia, merujuk pada bait kedua ini sebagai bait Zerubabel, “bupati Yehuda” (Hagai 1:1) yang ikut mengkoordinasikan pembangunan itu (Ezra 3:8; 5:2).

Bait ini sudah ada ketika Yesus datang ke bumi ini sebagai manusia, meskipun bait itu menjalani renovasi besar-besaran oleh Raja Herodes. Setelah renovasi ini, bait itu dikenal sebagai istana Herodes. Jadi usia bait ini secara keseluruhan mencapai hampir 600 tahun hingga kemusnahannya oleh kerajaan Romawi pada tahun 70 setelah Masehi.

Bait ketiga?

Karena sebuah bait Suci telah menjadi alat tetap yang penting di dalam sejarah Israel zaman dulu (dan khususnya orang Yahudi, yang juga disebut orang Israel), banyak orang penasaran apa yang dikatakan Alkitab tentang bait Suci ketiga.

Sementara naskah alkitabiah tidak selalu eksplisit seperti yang kita inginkan, ada tiga indikasi ayat yang menyatakan pembangunan bait Suci. Dua di antaranya merepresentasikan sebuah bait yang sesungguhnya; yang ketiga hanya dinyatakan secara simbolis.

Indikasi No. 1: Korban sehari-hari akan diadakan lagi

Berdasarkan nubuat-nubuat di dalam kitab Daniel tentang korban-korban yang dihentikan  oleh pembinasa keji pada akhir zaman, beberapa orang percaya bahwa orang Yahudi akan membangun lagi bait Suci di Yerusalem saat-saat sebelum Yesus Kristus kembali ke bumi ini. 

Daniel 8:9-14 berbicara tentang satu “tanduk kecil” yang akan menyebabkan “korban sehari-hari” berhenti. “Tanduk kecil” ini adalah Antiochus Epiphanes, yang merupakan bentuk kekuatan agama palsu di akhir zaman dimana dia akan bersekutu dengan sebuah kekuatan sipil yang disebut binatang. (Bacalah artikel kami, pada situs ini, yang berjudul “Apa Yang Dikatakan Alkitab Tentang Antikristus?”).

Berbicara dalam konteks kejadian-kejadian akhir zaman, Daniel 12:11 kembali berbicara tentang “korban sehari-hari” yang akan dihentikan. Bacaan dalam Daniel ini, yakni yang berbicara tentang korban yang dihentikan yang akan terjadi di masa depan membuat orang berpendapat bahwa sebuah bait akan dibangun dalam hubungannya dengan Mesbah yang di atasnya akan diadakan korban.

Di samping bacaan yang di Daniel ini, Yesus berbicara tentang “pembinasa keji” yang akan datang dan yang akan berdiri “di tempat kudus” di saat-saat sebelum kedatanganNya (Matius 24:15). Beberapa orang percaya bahwa “tempat kudus” berarti akan ada bait Suci, meskipun ucapan ini bisa juga berarti hanya mezbah pada Temple Mount itu.

Pendirian bait Suci ketiga oleh orang Yahudi di atas Temple Mount itu sekarang ini masih dalam ketidakpastian dan bahwa hal itu berada pada permasalahan atau konflik bangsa Arab dan Israel. Tempat pemujaan Islam yang disebut Dome of the Rock saat ini berdiri di tepat di lokasi bait Suci kedua. Dan satu lagi bangunan Mesjid Al-Aqsa, juga berdiri di atas Temple Mount itu.

Meskipun daerah itu telah berada dalam pengawasan Israel sejak 1967, administrasi lokasi itu berada di bawah perwalian Jordan, dan Arab akan sangat keras menentang pembangunan bait Suci Yahudi di lokasi bersejarah ini. Orang Islam menyebutnya dengan nama bukit al-Haram al-Sharif, yang artinya “Noble Sanctuary” [Tempat Suci yang mulia], yang mereka percayai bahwa nabi Muhammad naik ke sorga dari tempat ini.

Sementara hal ini mungkin bahwa orang Yahudi mendirikan satu lagi bait Suci sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya (ada orang yang berpendapat keras bahwa hal ini akan digenapi), juga mungkin bahwa orang Yahudi akan mulai mempersembahkan korban di atas Mesbah tanpa membangun bait Suci, sebagaimana telah dilakukan terhadap pembangunan bait Suci kedua itu (Ezra 3:1-6).

Indikasi No. 2: Penglihatan Yehezkiel

Yehezkiel 40-48 dengan jelas berbicara sebuah bait Suci yang akan dibangun. Tetapi memastikan waktu kapan ini terjadi sulit untuk dibuktikan. Jika hal itu merujuk pada Milenium, yakni 1,000 tahun pemerintahan Kristus setelah Dia kembali ke bumi ini, mengapa ada lagi korban sembelihan untuk dipersembahkan (Yehezkiel 40:38-43) padahal Kristus telah mengorbankan DiriNya “sekali untuk selamanya” (Ibrani 7:27)?

Beberapa orang berpendapat bahwa bab bacaan Yehezkiel merujuk pada bait Suci yang didirikan Salomo – Solomon Temple. Tetapi karena penglihatan tentang bait itu (Yehezkiel 40:1) terjadi setelah penghancuran Solomon Temple, orang lain berasumsi bahwa penglihatan Yehezkiel itu merupakan instruksi dari Elohim untuk mendirikan bait kedua atau ketika raja Herodes merenovasi itu. Pandangan lain ialah bahwa bab-bab ini adalah representasi alegoris /kiasan Gereja.

Tetapi pandangan-pandangan sejarah ini sangat tidak benar. Sebagaimana The Expositor’s Bible Commentary jelaskan: “Kegenapan-kegenapan historis tidak cocok dengan keterangan rinci dari bacaan itu. Bait Suci Salomo, Zerubabel, atau Herodes tidak menjelaskan kesamaan disain dan dimensi bait Suci yang digambarkan di dalam Yehezkiel 40-42. Prosedur penyembahan yang dinyatakan di dalam bab 43-46, meskipun itu terlihat bahwa itu mengikuti tata cara ibadah pengikut Musa, tetapi di dalam sejarah, itu tidak diikuti persis seperti yang digambarkan pada bab-bab ini. Sungai yang mengalir dari bait Suci itu yang digambarkan di bab 47:1-12 tidak pernah mengalir dari ketiga bait bersejarah ini yang disebutkan di atas. Komparasi satu-satunya terhadap sungai ini ada di Kejadian 2:8-14 dan Wahyu 22:1-2 (bandingkan dengan Yesaya 35:6-7; Yoel 3:18; Zakharia 14:8).

“Dimensi geografis dan pembagian tanah menurut suku tidak sesuai lagi pada zaman ini, dan itu tidak diikuti mereka di masa lalu. Perubahan-perubahan geografis tidak akan perlu sebelum kegenapan bab 45, 47-48. Oleh karena itu orang tidak melihat sejarahnya kegenapannya bab-bab ini (lampau dan sekarang) tetapi ke masa depan” (komentar pada Yehezkiel 40:1-48:35).

Interpretasi alegoris juga gagal menjelaskan bacaan ini secara memadai

Sebagaimana The Expositor’s Bible Commentary lebih lanjut menyatakan: “Pendekatan interpretasi figuratif atau ‘spiritualisasi’ nampaknya tidak menyelesaikan permasalahan pemahaman Yehezkiel 40-48; itu justru menciptakan masalah baru….  Untuk menginterpretasikan bab-bab ini dengan cara apapun selain dari yang normal, pendekatan literal nampaknya kontradiksi dengan petunjuk interpretatif di dalam penglihatan yang memperingatkan Yehezkiel bahwa dia harus menulis semua detil tentang kerangka atau rancangan bagi bait Suci itu dan regulasinya supaya detil ini mungkin diperhatikan secara hati-hati dan diikuti dalam setiap aspek (40:4; 43:10-11; 44:5; dibandingkan dengan Keluaran 25:9; 1 Tawarikh 28:19). Oleh karena itu, pendekatan figuratif tidak cukup memadai untuk membicarakan masalah pemahaman di Yehezkiel 40-48” (ibid.).

Interpretasi terbaik nampaknya bahwa bab-bab Yehezkiel ini menggambarkan sebuah bait Suci yang akan didirikan pada masa Milenium bagi Israel, yakni bangsa yang tidak akan terbagi dua kerajaan (Yehezkiel 37:22). Saatnya ialah ketika Roh Elohim dicurahkan kepada kaum Israel dan ketika Elohim akan “Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk

Indikator tambahan bahwa hal itu merujuk pada milenium ialah bahwa air kehidupan/penyembuhan mengalir dari bait itu (Yehezkiel 47:1, 9) dan nama kota Yerusalem berubah menjadi “TUHAN HADIR DI SITU” (Yehezkiel 48:35).  

Indikasi lain dari bait Suci milenium ini terdapat di Zakharia 14:21, yang bunyinya, “Maka segala kuali di Yerusalem dan di Yehuda akan menjadi kudus bagi TUHAN semesta alam; semua orang yang mempersembahkan korban akan datang mengambilnya dan memasak di dalamnya.”

 

Meskipun kita tidak diberitahu mengapa korban sembelihan akan diadakan lagi di masa Milenium, nampaknya bahwa memang akan terjadi paling tidak sekali-sekali dan hal ini diasosiasikan dengan bait Suci fisik.

Indikasi No. 3: Bait suci rohani

Sebagaimana kita sudah lihat, interpretasi alegoris/kiasan tidak cocok dengan Yehezkiel 40-48. Akan tetapi ada beberapa referensi di dalam Perjanjian Baru kepada orang-orang kepunyaan Elohim yang adalah bait Elohim. Menarik bahwa penjelasan simbolis ini dulu diberikan bahkan pada saat bait fisik Zerubabel dan Herodes masih berdiri.

Kepada anggota Jemaat Elohim in Korintus Paulus menuliskan: “Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah rumah Elohim dan Roh Elohim berdiam di dalam kamu? Jika ada orang yang menghancurkan rumah Elohim, maka Elohim akan menghancurkan dia, sebab rumah Elohim itu kudus, dan rumah Elohim itu adalah kamu” (1 Korintus 3:16-17).

Dalam mengajarkan jemaat itu untuk menghindari amoralitas seksual, Paulus lebih lanjut menuliskan: “Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah rumah Roh Kudus, yaitu Roh Kudus yang ada di dalam kamu, yang kamu peroleh dari Elohim, dan bahwa kamu bukanlah milik kamu sendiri?” (1 Korintus 6:19).

Dalam 2 Korintus 6:16 Paulus kembali berbicara kepada anggota jemaat di Korintus, “Sebab kamu adalah Bait Elohim yang hidup.”  Dan di dalam Efesus 2:21 dia berbicara kepada Jemaat yang bertumbuh menjadi “sebuah bait Suci yang kudus di dalam Tuhan.”

Membangun bait Suci secara simbolis yang menggambarkan bagaimana itu menjadi bait Elohim, Paulus menjelaskan bahwa Elohim telah berkata, "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka” (2 Korintus 6:16). Hal ini terjadi melalui Roh Kudus yang diam di dalam kita setelah kita bertobat dari dosa-dosa kita dan dibaptis. Kristus di dalam kita adalah “pengharapan akan kemuliaan” (Kolose 1:27), dan dengan demikian kita menjadi bait Suci Elohim.

Makna dari sebuah bait ketiga bagi kita

Sementara bait rohani yang dibicarakan Paulus sudah sedang dalam proses pembangunan dan sebuah bait fisik akan ada selama Milenium, itu akan tetap terlihat entah orang Yahudi akan mendirikan satu lagi bangunan baik saat-saat sebelum Yesus Kristus kembali. Melihat dari sudut pandang kepentingannya, menjadi bait rohani Elohim adalah usaha yang jauh lebih penting yang kita kerjakan. 

This article was translated from http://lifehopeandtruth.com

Tracker Pixel for Entry