Apakah Lent [Prapaskah] Itu Ada di Dalam Alkitab?

oleh Isaac Khalil 

https://lifehopeandtruth.com/god/blog/is-lent-in-the-bible/

Ayat-ayat kutipan artikel ini umumnya diambil dari Alkitab versi: Indonesian Modern Bible, tetapi juga dari Indonesian Terjemahan Baru.

Setiap tahun, jutaan orang merayakan Lent saat persiapan untuk Easter. Dari manakah asal-usul praktek ini? Apakah orang Kristen sebaiknya merayakan Lent? Apakah Lent itu disebut di dalam Alkitab?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lent ialah suatu periode tahunan selama 40 hari yang dirayakan oleh beberapa denominasi Kristen hingga perayaan Easter. Hal itu mencakup doa, berpuasa dan pantangan lainnya.  

Itu dianggap sebuah periode penance [penebusan dosa] sebelum perayaan Easter.

Di mana perkataan Lent di dalam Alkitab?

Lent tidak dikenal di dalam Alkitab. Jika anda meneliti Alkitab, anda tidak akan menemukan praktek perayaan Lent di lembaran mana pun di dalam Alkitab.

Dari mana Lent berasal?  

Pada abad ke-4, sebuah kontroversi muncul yang menyangkut apakah Gereja Katolik sebaiknya mengajarkan Kristen merayakan Easter atau Paskah, dan apa yang akan dilakukan orang Kristen sebelumnya.

Pada tahun 325, Konsili Nikea merumuskan perayaan Easter dan melarang orang merayakan Paskah.

Akan tetapi, sebelum Konsili ini, telah ada macam-macam tradisi berpuasa sebelum perayaan musim semi. Sekitar tahun 190, Irenaeus menuliskan kepada pemimpin gereja Roma, “Bagi beberapa orang, mereka seharusnya berpuasa satu hari, orang lain dua hari, dan bahkan yang lain lagi berpuasa beberapa hari, sementara itu banyak orang melakukannya selama 40 jam siang malam untuk berpuasa.” Tetapi ini menunjukkan tidak ada tradisi kerasulan atau ajaran untuk berpuasa selama 40 hari.   

The Catholic Encyclopedia menyatakan: “Ada keheningan yang sama yang terlihat pada semua Bapa pendiri sebelum zaman Nikea, meskipun banyak kejadian seperti institusi kerasulan seandainya itu ada.” Dengan kata lain, sebelum Konsili Nikea, tidak ada tradisi puasa 40 hari.

Pada tahun 461, hampir empat negara setelah era kerasulan, Paus Leo I mencoba menghubungkan tradisi dengan para rasul ketika dia menulis: “Genapi dengan puasa lembaga kerasulan mereka selama 40 hari.”

Akan tetapi, bahkan The Catholic Encyclopedia mempertanyakan klaim ini.

Menurut buku yang berjudul Catholic Customs and Traditions: A popular Guide, “Musim persiapan yang berbeda dan panjang  [untuk Easter] tidak ada hingga awal abad ke-4” (Greg Dues, 1992, p. 74).

Tradisi berpuasa, atau berpantang terhadap sesuatu, selama 40 hari sebelum Easter berkembang dalam abad itu setelah era Perjanjian Baru. Tidak ada sesuatu apa pun di dalam Alkitab mengindikasikan bahwa Yesus mengharapkan pengikutNya mengikuti kehidupanNya selama 40 hari di padang gurun.

Apa yang dilakukan orang selama Lent?

Pada awal-awal tradisi ini, Lent dirayakan terutama oleh anggota jemaat baru Katolik dan Lent itu dianggap sebagai satu periode pertobatan dan refleksi sebelum Easter. Akan tetapi, kemudian itu menjadi sesuatu yang umum untuk dipraktekkan.

Sebagaimana perayaan Lent meluas, tradisi-tradisi baru bermunculan, bagi beberapa orang dirayakan pada akhir pekan, dan yang lain dirayakannya hanya pada hari Minggu.

Khususnya, selama penganut Lent menjauhkan diri dari makan daging pada hari Jumat. Pada hari Minggu kadang-kadang disebut “little Easter,” makan besar diperbolehkan untuk merayakan sukacita kebangkitan Kristus.

Sekarang ini aturan puasa lebih sederhana, umat Katolik yang paling taat hanya berpantang dari hal-hal mewah dalam menjalani Lent 40 hari. Contohnya seperti makanan, minuman atau tabiat (merokok, social media, video games atau makan di luar).

Penganut ini juga didorong semangatnya untuk membaca, berdoa dan lebih memberi selama 40 hari.

Bagi umat Katolik Romawi, Lent mulai pada Rabu Abu, 46 hari sebelum hari Sabtu sebelum Minggu Easter. Tidak terhitung hari-hari Minggu, inilah 40 hari. (Bagi mereka yang menganut tradisi Ortodox Timur, Lent mulai tujuh minggu sebeblum Minggu Easter dan termasuk hari-hari Minggu, tetapi berhenti sebelum Minggu Palem).  

Pada hari Rabu Abu, ketika Lent mulai, para peserta menerima abu yang dioleskan pada dahi mereka, sering dalam bentuk salib, sebagai tanda penance [penebusan dosa] dan sebuah pengingat mortalitas manusia. Seperti Lent, tradisi ini tidak memiliki dasar kitab suci dan tidak pernah ada hingga kira-kira abad ke-8.

Apakah Lent memiliki hubungan dengan agama pagan, yakni agama penyembah berhala?

Setelah bangsa Romawi menerima Kekristenan, banyak festival perayaan, seperti Saturnalia dan Lupercalia, menjadi bagian dari adaptasi Kekristenan. Festival pagan ini menjadi Hari Natal modern dan Hari Valentine. Perayaan kesuburan pada musim semi akhirnya bermetamorfosis dengan perayaan Easter modern.

 

 

 

 

 

 

Selasa Gemuk. Mardi Gras adalah sebuah perayaan yang merayakan kesempatan terakhir bagi pemeluknya untuk harus “makan lemak” yang dilarang sebelum puasa Lent yang dimulai pada hari Rabu Abu.

Selama bertahun-tahun, orang-orang pagan merayakan akhir musim dingin dan awal musim semi. Lent berasal dari bahasa Inggris kuno lencten yang artinya “memperpanjang” — sebuah referensi untuk memperpanjang hari-hari musim semi dari hari-hari pendek musim dingin. Dalam bahasa Latin, perayaan ini disebut, Quadragesima, yang artinya “40 hari.”

Periode Lent didahului oleh Mardi Gras, atau “Selasa Gemuk.” Hal ini dihubungkan dengan pawai karnaval, yang berarti “penyingkiran daging.” Itu sebabnya Mardi Gras adalah kesempatan terakhir para penganut harus makan makanan yang dilarang itu sebelum puasa Lent dimulai pada Rabu Abu.

Menurut satu sumber: “[Karnaval] merefleksikan pesta pora yang meriah dan penyamaran pra-Kristen yang dihubungkan dengan perayaan musim semi pagan kuno  dan festival Tahun Baru yang dirayakan pada musim semi atau yang disebut ekuinoks musim semi. Karena tertib jemaat melarang jenis pesta pora ini selama Lent, hal itu wajar bahwa itu diganti oleh sebuah waktu berpesta pra-lenten” (Catholic Customs and Traditions: A Popular Guide, p. 76).

Pesta yang hiruk-pikuk pada perayaan Mardi Gras masih bisa kita saksikan di berbagai tempat, khususnya di kota-kota seperti Rio de Janeiro, Brazil, dan New Orleans, Louisiana.

Mengingat bahwa praktek-praktek ini tidak ditemukan di mana pun di dalam Alkitab, kita harus bertanya: Apa pandangan Elohim terhadap Lent?

Elohim menjelaskan ibadah yang benar

Sementara praktek-praktek Kristen mainstream banyak berasal dari ritual pagan, beberapa orang berkata bahwa mereka boleh melakukannya jika itu dilakukan dengan tulus terhadap Elohim.

Tetapi Elohim berkata sebaliknya.

Elohim memperingatkan umatNya untuk tidak melihat bangsa-bangsa lain dan berkata, “bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada ilah-ilah mereka? Dan aku pun, akan melakukan demikian” (Ulangan 12:30).

Bahkan yang lebih buruk lagi, Kristen tradisional menambahkan perayaan yang tidak alkitabiah, dengan mengesampingkan perayaan yang diperintahkan di dalam Alkitab!

Coba perhatikan berikut ini:

Gereja pada awal zaman menguduskan hari Sabat. Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, menguduskan hari Sabat sebagai kebiasaanNya (Lukas 4:16). Rasul Yohanes mendorong kita untuk mengikuti teladan Kristus dan “wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yohanes 2:6).

Paulus, rasul untuk bangsa-bangsa lain, memberitakan injil kepada orang-orang bukan Yahudi di Korintus “setiap hari Sabat” (Kisah Para Rasul 18:1, 4). Di Tesalonika, dia memberitakan injil pada hari Sabat dan mengajak “sejumlah besar orang Yunani” (Kisah Para Rasul 17:1-4).

(Untuk pelajaran lebih mendalam, bacalah “Siapa yang Mengubah Hari Beribadah Dari Hari Sabtu ke Hari Minggu? Dan Mengapa?”)

Gereja awal merayakan Paskah. Anggota jemaat pada Gereja awal memperingati Paskah — bukan Easter. Sebelum Yesus ditangkap, Dia berkata kepada murid-muridNya, “"Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita agar kita dapat makan" (Lukas 22:8). Tentang lambang baru untuk perayaan Paskah yang diajarkanNya, Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku” (Lukas 22:19). Rasul Paulus, pada saat dia menyapa jemaat bukan Yahudi, mengajar mereka untuk merayakan Paskah itu “pada malam ketika Dia dikhianati” — pada malam Paskah (1 Korintus 11:23-25).

Gereja awal merayakan hari-hari raya Elohim. Paulus menggunakan analogi ragi untuk mengajar jemaat di Korintus dan Galatia bahwa dosa harus dijauhkan. Jika tidak, itu akan merusak kehidupan setiap orang (1 Korintus 5:6-8; Galatia 5:9). Analogi ini akan tidak berarti jika mereka tidak merayakan Hari Raya Roti Tidak Beragi, ketika umat Elohim diperintahkan untuk menyingkirkan ragi (Keluaran 12:15; Imamat 23:6).

Kami mendorong para pembaca artikel kami untuk memeriksa hari-hari raya yang diperintahkan Elohim di dalam Alkitab. Perayaan-perayaan itu jauh lebih bermakna dari pada hari-hari buatan manusia seperti Lent, Rabu Abu dan Mardi Gras.

This article was translated from http://lifehopeandtruth.com

Tracker Pixel for Entry